Senin, 07 November 2016

Makalah Pendidikan Islam



PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks islam pada umumnya mengacu kepada term al-terbiyah, al-ta’dib dan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al-ta’dib al-ta’lim jarang digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.
Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga term tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan, baik secara tekstual maupun konstektual. Untuk itu, perlu dikemukakan uraian dan analisis argumentasi tersendiri dari beberapa pendapat para ahli pendidikan islam.
1)      Istilah al-Tarbiyah
Penggunaan istilah al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti akan tetapi pengertian dasarnya menunjukan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Dalam penjelasan lain, kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu : Pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang (Q.S. Ar Ruum / 30:39). Kedua, rabiya-yarba yang berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.
Kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Fatihah 1:2  (alhamdu lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.
Uraian diatas, secara filosofis mengisyratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber  pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam term al-tarbiyah terdiri atas empat unsur  pendekatan, yaitu: (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh). (2) mengembangkan selutuh potensi menuju kesempurnaan. (3) mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Penggunaan term al-Tarbiyah untuk menunjuk makna pendidikan Islam dapat difahami dengan merujuk firman Allah yang artinya “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S. Al Israa’ 17-24)
2)      Istilah al-Ta’lim
Istilah al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih universal dibanding dengan al-Tarbiyah maupun al-ta’dib. Rasyid Ridha, misalnya mengartikan al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Argumentasinya didasarkan dengan mrujuk pada (Q.S. Al-Baqarah :151).
Kalimat wa yu’allimu hum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Menurut  Abdul Fatah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan hanya sekedar membuat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikamah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui. Oleh karena itu, makna al-ta’lim tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah akan tetapi mencangkup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan; perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku.
Kecendrungan Abdul Fatah jalal di atas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang mendapat pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s. Hal ini secara eksplisit disinyalir dalam Q.S. Al-Baqarah 2:31. pada ayat tersebut dijelaskan , bahwa penggunaan kata ‘allama untuk memberikan pengajaran kepada Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.



3). Istilah al-Ta’dib
Menurut Al-Atas, istilah yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-ta’dib. Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamka kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Lebih lanjut ia ungkapan bahwa penggunaan Tarbiyah terlalu luas untuk mengungkap hakikat dan operasionalisasi pendidikan Islam. Sebab kata al-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuhan, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Oleh karena itu, penggunaan istilah al-Tarbiyah tidak memiliki akar yang kuat dalam khazanah Bahasa Arab.
Dengan demikian istilah al-Ta’dib merupakan term yang paling tepat dalam khazanah bahasa Arab karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-Tarbiyah dan al-Ta’lim sudah tercakup dalam term al-Ta’dib.
Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term diatas secara terminology, para ahli pendidikan Islam. Diantara batasan yang sangat variatif tersebut adalah:
  1. Al-Syaibaniy ; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi dalam masyarakat.
  2. Muhammad Fadhil al-jamaly; mendefinisikan pendidikan islam sebagai upaya mengembangkan mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatannya.
  3. Ahmad D. Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pemimpin secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik enuju terbentuknya kepribadiannya yang  utama (insan kamil)
  4. Ahmad Tafsir; mendefinisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oeleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam.
Dari batasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam yang diyakininya.

      B. Dasar Pendidikan Islam
       Yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan. Karena dasar menyangkut masalah ideal dan fundamental, maka diperlukan landasan dan pandangan hidup yang kokoh dan tidak berubah. Kalau nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang dijadikakan dasar pendidikan itu bersifat relatif dan temporal, maka pendidikan akan mudah terombang ambing.

       Adapun dasar pendidikan Islam dapat diketahui dari firman Allah SWT :
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa : 59).
       Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa seluruh urusan umat Islam wajib berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunah. Dengan demikian dasar dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunah. Walaupun demikian, kedua sumber utama tersebut hanya mengandung prinsip-prinsip pokok saja, sehingga pendidikan Islam tatap terbuka terhadap unsur ijtihad dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunah sebagai nilai utama.
       Ahmad D. Marimba mengemukakan sumber dasar Islam adalah firman Allah SWT dan sunah Rosulullah SAW.  Sedangkan Zakiah Daradjat mengungkapkan landasan pendidikan Islam itu terdiri dari Al-Qur’an dan Sunah Nabi yang dapat dikembangkan dengan ijtihad. Ijtihad digunakan karena semakin banyaknya permasalahan yang berkembang sekarang ini dalam bidang pendidikan, serta diperlukannya pemikiran-pemikiran baru yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
       Dari uraian di atas maka dapat diambil pemahaman bahwa dasar pendidikan Islam ada dua, yaitu :
1.         Dasar Pokok
Dasar pokok dari pendidikan Islam adalah Al Qur’an dan Sunnah. Kedua sumber pendidikan Islam tersebut dapat ditemukan di dalamnya kata-kata atau istilah-istilah yang pengertiannya terkait dengan pendidikan.
a.         Al-Qur’an
Al Qur’an mempunyai kedudukan sebagai sumber pokok ajaran Islam dapat dipahami dari ayat berikut:

Artinya : Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran yang cerah mendapat pelajaran. (Q.S. Shaad:29)
b.        As-Sunnah
Posisi Hadits sebagai sumber kedua setalah Al-qur’an disebabkan hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran Al-Qur’an itu sendiri, disamping memang sunnah merupakan sumber  utama pendidikan Islam karena Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi umatnya.
Artinya : ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR Bukhari).
2.         Dasar Tambahan
Selain Al Qur’an dan Sunnah, ada beberapa dasar yang bisa dijadikan sebagai dasar tambahan dalam pendidikan Islam, diantaranya:
a.         Ijtihad
Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu, sebab ajaran islam yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Sunnah, hanya berupa prinsip-prinsip pokok. Sedangkan sejak turunnya ajaran Islam kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang Islam telah tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Maka diperlukan usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkembang.
b.        Maslahah Mursalah
Maslahah Mursalah yaitu : “menetapkan peraturan atau ketetapan undang-undang yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah atas pertimbangan penarikan kebaikan dan menghindarkan kerusakan”.
c.         Urf (Nilai-Nilai dan Adat Istiadat Masyarakat)
al- ‘Urf  adalah kebiasaan masyarakat, baik berupa perkataan, perbuatan maupun kesepakatan yang dilakukan secara terus menerus dan selanjutnya membentuk semacam hukum tersendiri.
C.       Tujuan Pendidikan Islam
       Dalam pandangan Islam tujuan menempati posisi sangat penting, artinya setiap urusan harus beorientasi pada tujuan.
1.         Prinsip Tujuan Pendidikan Islam.
Bagian yang sangat penting dalam mencapai tujuan adalah mengetahui prinsip-prinsip tujuan pendidikan Islam. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :
a.         Prinsip universal (syumuliyah). Prinsip ini memandang keseluruhan aspek agama (akidah, ibadah, akhlak, serta muamalah), manusia (jasmani, rohani, nafsani);
b.        Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan. Prinsip ini adalah keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan pada pribadi, berbagai kebutuhan individu dan komunitas;
c.         Prinsip kejelasan. Prinsip yang didalamnya terdapat ajaran dan hukum yang memberi kejelasan terhadap kejiwaan manusia;
d.        Prinsip realistik dan dapat dilaksanakan;
e.         Prinsip perubahan yang diinginkan. Prinsip perubahan struktur diri manusia yang meliputi jasmaniyah, ruhaniyah, serta perubahan kondisi psikologis, sosiologis, pengetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk mencapai dinamisasi kesempurnaan pendidikan;
f.         Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi.
2.         Fungsi Tujuan Pendidikan Islam
Ahmad D. Marimba, menyebutkan ada empat fungsi tujuan pendidikan:
a.         Tujuan berfungsi mengakhiri usaha.
Suatu usaha yang tidak mempunyai tujuan tidaklah mempunyai arti apa-apa. Suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah tercapai.
b.        Tujuan berfungsi mengarahkan usaha.
Tanpa adanya antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan, penyelewengan akan banyak terjadi dan kegiatan yang dilakukan tidak akan berjalan secara efisien.
c.         Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain.
d.        Tujuan memberi nilai (sifat) pada usaha itu. Ada usaha-usaha yang tujuannya lebih luhur, lebih mulia, lebih luas dari usaha-usaha yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rumusan setiap tujuan selalu disertai dengan nilai-nilai yang hendak diusahakan perwujudannya.
3.         Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam merupakan kristalisasi nilai-nilai ideal Islam yang diwujudkan dalam pribadi anak didik. Berikut ini merupakan pendapat para tokoh mengenai tujuan pendidikan Islam:
a.         Prof. Dr. Moh. Athiya El-Abrosyi menyimpulkan lima tujuan pendidikan ini sebagai berikut :
1)        Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia;
2)        Persiapan kehidupan di dunia dan akherat;
3)        Persiapan mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan;
4)        Menumbuhkan scientific spirit pada pelajar dan memuaskan keingintahuan dalam mengkaji ilmu;
5)        Menyiapkan peserta didik dari segi professional.
b.        Menurut Ahmad Tafsir, yang menjadi tujuan umum pendidikan ada dua yaitu,pertama mampu hidup tenang. Kedua produktif. Kedua hal tadi kemudian dirinci menjadi tiga yaitu, pertama berbadan sehat dan kuat, kedua berotak cerdas dan pandai, ketiga memiliki iman yang kuat.
Dari ketiga hal, Ahmad Tafsir merincinya menjadi tujuan khusus yaitu berdisiplin tinggi, jujur, kreatif, ulet, berdaya saing tinggi, mampu hidup berdampingan dengan orang lain, demokratis, menghargai waktu, dan
mampu mengendalikan diri.
c.         Menurut Muhaimin, secara umum pendidikan agama Islam bertujuan untuk “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”
d.        Prof. H. M. Arifin M.Fd. menyatakan bahwa, tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan manusia muslim yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada Khaliqnya dengan sikap dan kepribadian yang merujuk kepada penyerahan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan, duniawiah dan ukhrawiah.
e.         Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan pendidikan yaitu sementara dan akhir. Tujuan sementara pendidikan islam yaitu tercapainya tingkat kedewasaan baik jasmaniah maupun rohaniah. Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim yaitu kepribadian yang mencerminkan ajaran Islam.
Berdasarkan beberapa rumusan tujuan pendidikan Islam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk seorang muslim sempurna yang berkepribadian mulia, sehat jasmani dan rahani, cerdas dan pandai, bertaqwa kepada Allah SWT.



KESIMPULAN
        Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dasar pendidikan Islam adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan Islam. Para ahli pendidikan Islam sepakat bahwa yang menjadi dasar dalam pendidikan Islam adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad dari para ulama.
        Sedangkan tujuan dari pendidikan Islam secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk seorang muslim sempurna yang berkepribadian mulia, sehat jasmani dan rahani, cerdas dan pandai, bertaqwa kepada Allah.



Daftar Pustaka

  • Ahmad D. Marimba. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-ma’arif 
  • Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma HumanismeTeosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar